Rilis Info News - Lembaga Swadaya Masyarakat Saluran Informasi dan Investigasi Korupsi (LSM SIDIK) kembali melontarkan kritik terhadap dunia pendidikan. Kali ini, sorotan diarahkan kepada sejumlah guru yang pernah menyandang predikat guru berprestasi dan kemudian dipercaya memimpin sekolah sebagai kepala sekolah, namun dinilai belum mampu menghadirkan inovasi maupun perubahan yang signifikan.
Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang, menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah merupakan arena pembuktian sesungguhnya atas kapasitas dan kualitas kepemimpinan seseorang. Menurutnya, penghargaan dan prestasi yang pernah diraih semestinya tercermin dalam kemajuan sekolah yang dipimpin.
"Yang dipersoalkan bukan gelarnya, melainkan dampak yang dihasilkan. Ketika prestasi begitu gencar dipromosikan, tetapi perubahan yang terlihat di sekolah sangat minim, maka wajar jika masyarakat bertanya: apa yang sebenarnya menjadi ukuran penilaian selama ini?" ujar Mahmud.
Ia menilai dunia pendidikan tidak boleh terjebak pada budaya seremonial yang lebih menonjolkan penghargaan daripada menghasilkan perubahan konkret. Bagi Mahmud, keberhasilan seorang pemimpin pendidikan tidak diukur dari banyaknya sertifikat atau piagam yang pernah diterima, melainkan dari kemampuannya mendorong kemajuan sekolah secara nyata.
"Jangan sampai kita melahirkan sosok-sosok yang tampil gemilang saat proses penilaian, tetapi kehilangan daya dorong ketika diberi amanah memimpin. Jika fenomena seperti ini terus terjadi, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya individu yang bersangkutan, melainkan juga sistem yang melahirkan dan mengukuhkan prestasi tersebut," tegasnya.
Menurut Mahmud, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan krisis kepercayaan publik terhadap mekanisme pemberian penghargaan di sektor pendidikan. Sebab, prestasi yang sesungguhnya akan tercermin melalui hasil dan perubahan yang dapat dirasakan oleh warga sekolah maupun masyarakat.
"Prestasi sejati selalu meninggalkan jejak. Ia terlihat dari perubahan budaya sekolah, meningkatnya kualitas pembelajaran, lahirnya inovasi, tumbuhnya prestasi peserta didik, serta terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih baik. Jika indikator-indikator itu tidak tampak, maka pertanyaan mengenai kredibilitas penghargaan menjadi hal yang sulit dihindari," katanya.
LSM SIDIK pun mendorong pemerintah dan para pemangku kebijakan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem seleksi, promosi jabatan, serta pemberian penghargaan di lingkungan pendidikan. Evaluasi tersebut dinilai penting agar penghargaan benar-benar diberikan kepada figur yang terbukti mampu menciptakan perubahan dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan.
"Publik tidak membutuhkan kepala sekolah yang hanya kaya sertifikat. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang kaya gagasan, berani melakukan terobosan, mampu menggerakkan seluruh potensi sekolah, dan meninggalkan warisan kemajuan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang. Karena pada akhirnya, sekolah adalah ruang pembuktian yang tidak bisa ditutupi oleh pencitraan," ujarnya.
Menutup pernyataannya, Mahmud menyampaikan sindiran yang kini menjadi perhatian sejumlah pemerhati pendidikan.
"Jika prestasi itu nyata, sekolah akan berkembang dan berbicara dengan sendirinya. Namun jika prestasi hanya hidup dalam dokumen, proposal, dan lembar penilaian, maka waktu serta jabatan akan menjadi hakim yang paling jujur untuk membuktikannya."

0Comments