Oleh : Herwan, SH, M.Si
Rilis Info News - Jakarta, Perkembangan media digital yang pesat telah membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Kecepatan menjadi kunci utama, namun di sisi lain, tuntutan untuk tetap memegang teguh etika jurnalistik menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Di tengah banjir informasi, jurnalis dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.
Dewan Pers mencatat bahwa meningkatnya jumlah media online dan platform media sosial turut memengaruhi cara masyarakat mengonsumsi berita. Namun, kondisi ini juga membuka celah munculnya informasi yang tidak terverifikasi, hoaks, hingga pemberitaan yang mengabaikan prinsip-prinsip etika jurnalistik.
Jurnalis dan Wartawan: Peran yang Saling Melengkapi
Dalam praktik jurnalistik, istilah jurnalis dan wartawan kerap digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya memiliki cakupan makna yang berbeda. Jurnalis merupakan istilah yang lebih luas, mencakup seluruh peran dalam proses jurnalistik, mulai dari reporter, editor, penulis naskah, hingga penyiar. Sementara itu, wartawan lebih merujuk pada mereka yang melakukan peliputan langsung di lapangan untuk mengumpulkan fakta dan informasi.
Perbedaan ini menjadi penting terutama dalam konteks media digital, di mana satu orang jurnalis sering kali merangkap berbagai peran sekaligus—meliput, menulis, mengedit, bahkan mendistribusikan berita.
Asas Kode Etik Jurnalistik
Dalam menjalankan tugasnya, jurnalis dan wartawan terikat pada Kode Etik Jurnalistik yang menjadi pedoman utama. Kode etik tersebut berlandaskan beberapa asas penting.
Pertama, asas demokratis, yang menekankan bahwa pers harus menyajikan berita secara berimbang, independen, serta mengutamakan kepentingan publik. Media juga wajib melayani hak jawab dan hak koreksi dari pihak yang dirugikan.
Kedua, asas profesionalitas, yang mengharuskan jurnalis bekerja sesuai standar profesi, melakukan verifikasi, dan tidak menyalahgunakan profesinya. Ketiga, asas moralitas, yaitu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan kesusilaan dalam setiap pemberitaan. Keempat, asas supremasi hukum, yang menegaskan bahwa pers harus menghormati hukum dan asas praduga tak bersalah.
Tujuh Etika Dasar Jurnalis
Dalam praktik sehari-hari, etika jurnalistik diwujudkan melalui sejumlah prinsip utama. Jurnalis harus bersikap independen dan berimbang, menjalankan tugas secara profesional, serta selalu menguji informasi sebelum dipublikasikan. Mereka dilarang membuat berita bohong, fitnah, sadis, atau cabul.
Selain itu, jurnalis wajib melindungi identitas korban kejahatan asusila dan anak-anak, tidak menerima suap, serta menghormati kesepakatan dengan narasumber, termasuk informasi yang bersifat off the record.
Pengambilan Keputusan Etis dalam Jurnalistik
Dalam situasi tertentu, jurnalis kerap dihadapkan pada dilema etis. Untuk itu, dikenal model tujuh langkah pengambilan keputusan etis, yang meliputi: mengumpulkan fakta, mengidentifikasi pihak yang terdampak, merumuskan dilema etis, menyusun alternatif solusi, membandingkan solusi berdasarkan prinsip etika, menimbang konsekuensi, dan akhirnya membuat keputusan yang paling bertanggung jawab.
Model ini membantu jurnalis agar tidak hanya berpikir soal nilai berita, tetapi juga dampak sosial dari informasi yang disebarkan.
Pilar dan Peran Jurnalistik
Jurnalistik modern bertumpu pada tiga pilar utama, yakni etika jurnalistik, manajemen ruang redaksi, serta teknik liputan dan penulisan. Ketiganya saling berkaitan dan menentukan kualitas sebuah produk jurnalistik.
Sementara itu, peran jurnalistik dalam masyarakat mencakup fungsi monitorial (mengawasi kekuasaan), kolaboratif (bekerja sama dengan berbagai pihak), intervensionis (mendorong perubahan sosial), dan akomodatif (menjembatani kepentingan publik dan pemerintah).
Tantangan di Era Digital
Di era digital, tekanan terhadap jurnalis semakin besar. Kecepatan publikasi sering kali beradu dengan proses verifikasi. Namun, para ahli menegaskan bahwa etika tidak boleh dikorbankan demi klik dan trafik semata.
“Kepercayaan publik adalah aset utama media. Sekali hilang karena pelanggaran etika, akan sulit dipulihkan,” ujar salah satu anggota Dewan Pers dalam sebuah diskusi tentang jurnalisme digital.
Penutup
Di tengah derasnya arus informasi, etika jurnalistik menjadi kompas utama bagi jurnalis dan wartawan. Dengan tetap berpegang pada kode etik, pers dapat menjalankan fungsinya sebagai pilar demokrasi, penyampai kebenaran, dan pelindung kepentingan publik. Media yang etis bukan hanya cepat menyampaikan berita, tetapi juga bertanggung jawab atas dampak dari setiap kata yang dipublikasikan.
Penulis Adalah Presedium Forum Komunikasi Jurnalis (FKJ) Soppeng (8/2/2026).

0Comments