TSWoTUOlTUW7TSW8TUGpTpW8Ti==
Breaking
News

Debu Hitam Pabrik Pengolahan Gabah Dikeluhkan Warga Tinco, Sejauh Mana Pengawasan Lingkungan?

Font size
Print 0

 
Rilis Info News -  Aktivitas pabrik pengolahan gabah/padi di wilayah Bentenge, Kabupaten Soppeng, mulai dipertanyakan warga. Pasalnya, debu berwarna hitam yang diduga berasal dari aktivitas pabrik disebut beterbangan hingga ke permukiman warga Tinco.

Keluhan tersebut bukan sekadar soal debu yang terlihat di udara. Warga mengaku harus berhadapan dengan debu yang masuk ke dalam rumah, menempel di lantai, tanaman hingga daun yang hendak digunakan sebagai pembungkus makanan.

Salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengungkapkan, kondisi tersebut paling terasa ketika angin bertiup dari arah barat.

“Kalau datang angin, khususnya dari arah barat, debunya sampai ke rumah warga,” katanya.

Warga yang tinggal sekitar satu kilometer dari lokasi pabrik tersebut bahkan mengaku dapat menemukan debu di dalam rumah ketika debu sedang beterbangan.

“Biasanya kalau lagi terbang, debunya sampai masuk ke dalam rumah. Debunya bisa digenggam dari lantai, dan kalau hujan, air dari atap sangat hitam” ujarnya.

Kondisi itu, menurutnya, juga berdampak pada tanaman di sekitar rumah. Daun-daun tanaman disebut tertutup debu sehingga membutuhkan pembersihan ekstra sebelum digunakan.

“Baru-baru ini mau bikin buras, daun sebagai pembungkus harus dibersihkan lebih lama karena banyak debu,” tuturnya.

Yang menjadi perhatian warga, debu tersebut disebut bukan hanya berupa partikel halus yang nyaris tak terlihat. Dalam kondisi tertentu, debu tampak kasar dan beterbangan mengikuti arah angin.

Persoalan kemudian bergeser pada pertanyaan yang lebih serius: sejauh mana dampak aktivitas tersebut terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik?

Warga mengaku belum dapat memastikan dampaknya terhadap kesehatan. Untuk orang dewasa, dampak langsung memang belum begitu dirasakan. Namun, kekhawatiran justru muncul terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak dan balita yang tinggal di sekitar lokasi.

“Kalau untuk tubuh manusia dewasa mungkin tidak terlalu terasa, tapi untuk anak-anak khususnya balita, kami belum tahu,” katanya.

Warga tidak serta-merta meminta aktivitas pabrik dihentikan. Mereka justru berharap ada solusi konkret agar kegiatan industri tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan dan lingkungan masyarakat sekitar.

Salah satu yang diharapkan adalah adanya sistem penyaringan atau pengendalian debu yang memadai sehingga partikulat dari proses pengolahan tidak mudah terbawa angin menuju permukiman.

“Kami berharap ada saringan atau semacamnya agar hal itu tidak berdampak kepada masyarakat,” harapnya.

Keluhan ini tentu layak menjadi perhatian pemerintah daerah dan instansi yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan lingkungan. Sebab, jika debu benar berasal dari aktivitas industri dan secara rutin mencapai permukiman, persoalannya bukan lagi sekadar gangguan kenyamanan, tetapi perlu dipastikan melalui pemeriksaan apakah pengelolaan emisi dan dampak lingkungannya telah memenuhi ketentuan.

Pemeriksaan lapangan, pengukuran kualitas udara serta evaluasi sistem pengendalian debu menjadi penting agar persoalan tidak berhenti pada keluhan warga dan saling klaim.

Masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang aman, sementara pelaku usaha juga berhak menjalankan kegiatan usahanya. Yang tidak boleh terjadi adalah aktivitas usaha berjalan, sementara dampak lingkungannya justru harus ditanggung warga.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pengelola pabrik terkait keluhan warga tersebut. Pihak pengelola diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai sumber debu, sistem pengendalian emisi yang digunakan, serta langkah yang dilakukan untuk mencegah debu menyebar ke permukiman.

Keterangan dari Dinas Lingkungan Hidup maupun instansi terkait juga diperlukan untuk memastikan apakah kondisi tersebut telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku.

(AIR)

Debu Hitam Pabrik Pengolahan Gabah Dikeluhkan Warga Tinco, Sejauh Mana Pengawasan Lingkungan?
Check Also
Next Post

0Comments

Link copied successfully