TSWoTUOlTUW7TSW8TUGpTpW8Ti==
Breaking
News

Ecotheology Berbuah Prestasi, MAN 1 Soppeng Raih Eco School Utama 2026 dan Menuju Adiwiyata Nasional

Font size
Print 0


Rilis Info News -  Komitmen MAN 1 Soppeng dalam membangun pendidikan yang berwawasan lingkungan kembali memperoleh pengakuan. Berkat konsistensi menerapkan Ecotheology (Ekoteologi) sebagai salah satu program strategis madrasah, MAN 1 Soppeng menerima Penghargaan Eco School Utama – Sekolah Ramah Lingkungan Tahun 2026 dari Pemerintah Kabupaten Soppeng melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Soppeng. Penghargaan tersebut merupakan apresiasi tertinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup bagi satuan pendidikan di tingkat Kabupaten Soppeng dan sekaligus menjadi penguat langkah MAN 1 Soppeng menuju Adiwiyata Nasional.

Capaian tersebut tidak lahir dari program yang bersifat seremonial atau sesaat. MAN 1 Soppeng telah menempatkan Ecotheology sebagai salah satu arah strategis pembangunan madrasah melalui Sapta Cita MANESA atau Tujuh Tujuan MAN 1 Soppeng. Kebijakan ini sekaligus menjadi bentuk konkret penerjemahan Asta Protas Menteri Agama Republik Indonesia serta penguatan Asta Aksi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan dalam konteks kehidupan dan budaya madrasah.

Bagi MAN 1 Soppeng, Ecotheology tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas penghijauan, penanaman pohon, atau menjaga kebersihan lingkungan. Ecotheology dikembangkan sebagai paradigma pendidikan yang membangun hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam. Dalam perspektif ini, manusia dipandang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual sebagai khalifah di muka bumi, sehingga menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengamalan nilai keagamaan.

Paradigma tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai kebijakan dan kegiatan nyata, mulai dari penguatan kebersihan dan sanitasi, pengelolaan serta pemilahan sampah, pengurangan sampah plastik, pengembangan bank sampah, konservasi air, penghematan energi, pemeliharaan ruang terbuka hijau, pelestarian keanekaragaman hayati, hingga pengembangan ekosistem buatan di lingkungan madrasah. Nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan juga diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, literasi, kegiatan keagamaan, pembinaan asrama, serta pembiasaan sehari-hari peserta didik.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan lingkungan di MAN 1 Soppeng tidak ditempatkan sebagai program tambahan, tetapi menjadi bagian dari pembentukan karakter dan budaya madrasah. Kesadaran ekologis diarahkan tidak hanya pada perubahan kondisi fisik lingkungan, tetapi juga pada perubahan cara berpikir dan perilaku seluruh warga madrasah.

Kepala MAN 1 Soppeng, Dr. Musmuliadi, S.Ag., M.A., menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang berhasil diraih. Menurutnya, Eco School Utama merupakan buah dari proses panjang dan kerja kolektif seluruh unsur madrasah.

“Alhamdulillah, penghargaan ini merupakan berkah dari ikhtiar bersama dalam mengimplementasikan Ecotheology sebagai salah satu Sapta Cita MANESA. Kami ingin agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kebijakan, pembelajaran, pembiasaan, dan budaya kehidupan sehari-hari di madrasah,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa konsep Ecotheology memberikan dimensi yang lebih luas terhadap pendidikan lingkungan karena menghubungkan kesadaran ekologis dengan nilai-nilai spiritual.

“Kami ingin membangun pemahaman kepada peserta didik bahwa menjaga kebersihan, menghemat air dan energi, merawat tanaman, mengelola sampah, serta menjaga keseimbangan alam pada hakikatnya merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan. Mencintai Sang Pencipta semestinya tercermin dalam cara manusia menjaga dan memperlakukan ciptaan-Nya,” lanjutnya.

Penetapan Ecotheology sebagai bagian dari Sapta Cita MANESA juga memberikan arah kelembagaan yang semakin jelas. Program lingkungan tidak lagi menjadi tanggung jawab satu tim atau kelompok tertentu, melainkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, organisasi siswa, pembina asrama, komite madrasah, orang tua, serta berbagai mitra.

Melalui Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah, MAN 1 Soppeng terus mengembangkan pola pendidikan lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan. Madrasah berupaya mengubah paradigma dari sekadar membersihkan lingkungan ketika kotor menjadi membangun budaya yang mencegah terjadinya pencemaran; dari sekadar menanam pohon menjadi menjaga keberlanjutan ekosistem; serta dari sekadar menghemat air dan energi menjadi menumbuhkan kesadaran bahwa sumber daya alam merupakan amanah yang harus dijaga untuk generasi berikutnya.

Dalam perspektif pendidikan, praktik tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan memerlukan keterpaduan antara kebijakan, kurikulum, keteladanan, pembiasaan, partisipasi, dan evaluasi berkelanjutan. Inilah yang secara bertahap dibangun MAN 1 Soppeng sehingga Ecotheology tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjelma menjadi budaya institusi.

Penghargaan Eco School Utama – Sekolah Ramah Lingkungan Tahun 2026 menjadi salah satu bukti atas konsistensi tersebut. Bagi MAN 1 Soppeng, penghargaan ini bukan hanya simbol keberhasilan, melainkan bentuk pengakuan sekaligus amanah untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan.

“Penghargaan ini bukan garis akhir. Justru tanggung jawab kami semakin besar untuk memastikan bahwa budaya ramah lingkungan terus tumbuh dan diwariskan kepada setiap generasi peserta didik MAN 1 Soppeng. Eco School Utama harus menjadi energi baru untuk terus melakukan inovasi,” tegas Dr. Musmuliadi.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh keluarga besar MAN 1 Soppeng yang telah berkontribusi dalam membangun budaya lingkungan tersebut.

“Prestasi ini adalah milik bersama. Guru, tenaga kependidikan, peserta didik, komite, orang tua, serta seluruh mitra telah mengambil peran. Sebuah budaya besar tidak pernah lahir dari kerja satu orang, tetapi dari kesadaran, keteladanan, dan komitmen kolektif,” ujarnya.

Penghargaan Eco School Utama semakin memperkuat perjalanan MAN 1 Soppeng menuju Adiwiyata Nasional. Berbagai aspek terus dibenahi secara sistematis, mulai dari kebijakan berwawasan lingkungan, proses pembelajaran, sanitasi, pengelolaan sampah, konservasi air dan energi, pelestarian keanekaragaman hayati, pelibatan masyarakat, hingga pengembangan berbagai inovasi lingkungan.

Meski demikian, MAN 1 Soppeng memandang bahwa substansi Adiwiyata tidak terletak pada sertifikat atau penghargaan semata. Adiwiyata dipahami sebagai sebuah proses membangun peradaban pendidikan yang menumbuhkan manusia dengan kesadaran ekologis, tanggung jawab sosial, dan spiritualitas yang kuat. Karena itu, langkah menuju Adiwiyata Nasional bukan sekadar untuk memenuhi instrumen penilaian, tetapi memastikan bahwa perilaku ramah lingkungan benar-benar menjadi karakter dan identitas madrasah.

Semangat tersebut juga sejalan dengan branding “MANESA My Green School”, yang menjadikan lingkungan sebagai bagian integral dari ekosistem pendidikan MAN 1 Soppeng. Di tengah semakin kompleksnya tantangan lingkungan, mulai dari persoalan sampah, pencemaran, perubahan iklim, krisis air hingga berkurangnya keanekaragaman hayati, lembaga pendidikan memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi dengan literasi ekologis yang kuat.

MAN 1 Soppeng memilih mengambil bagian dalam tanggung jawab tersebut melalui jalur pendidikan. Ecotheology menjadi jembatan yang mempertemukan pengetahuan, iman, dan tindakan. Peserta didik tidak hanya diajak mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi memahami mengapa alam harus dirawat, siapa yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutannya, dan nilai spiritual apa yang mendasari tanggung jawab tersebut.

Dalam konteks inilah Sapta Cita MANESA menemukan makna konkretnya. Ecotheology tidak berhenti sebagai rumusan tujuan, tetapi bergerak menjadi kebijakan, program, pembelajaran, pembiasaan, aksi kolektif, dan akhirnya melahirkan prestasi.

Penghargaan Eco School Utama Tahun 2026 menjadi salah satu penanda penting perjalanan tersebut. Dari sebuah cita lahir kebijakan, dari kebijakan tumbuh gerakan, dari gerakan terbentuk budaya, dan dari budaya lahirlah prestasi.

Kini, dengan penghargaan Eco School Utama sebagai modal moral dan institusional, MAN 1 Soppeng semakin mantap melangkah menuju Adiwiyata Nasional, membawa sebuah pesan bahwa madrasah tidak hanya memiliki tanggung jawab mencerdaskan generasi, tetapi juga mendidik manusia agar mampu menjaga bumi tempat kehidupan berlangsung.

Sebab merawat bumi adalah bagian dari merawat amanah kehidupan, dan menjaga lingkungan merupakan salah satu wujud nyata keberagamaan yang memberi manfaat bagi generasi hari ini dan masa depan.

Ecotheology Berbuah Prestasi, MAN 1 Soppeng Raih Eco School Utama 2026 dan Menuju Adiwiyata Nasional
Check Also
Next Post

0Comments

Link copied successfully