Rilis Info News - Dinamika politik yang belakangan berkembang di internal Partai Golkar Sulawesi Selatan memunculkan beragam spekulasi. Salah satu yang cukup ramai diperbincangkan adalah anggapan bahwa Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, kini hanya berada di posisi pengamat yang sekadar membaca arah angin politik tanpa memiliki pengaruh berarti dalam percaturan kekuasaan.
Namun, jika melihat rekam jejak, posisi strategis, dan kekuatan politik yang dimilikinya saat ini, anggapan tersebut dinilai terlalu sederhana, bahkan cenderung keliru.
Suwardi Haseng bukanlah figur yang lahir dari proses politik instan. Karier politiknya ditempa melalui perjalanan panjang, mulai dari kursi DPRD Kabupaten Soppeng hingga dipercaya menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan selama beberapa periode. Pengalaman itu membentuk jaringan politik yang luas sekaligus pemahaman yang matang terhadap dinamika pemerintahan dan kepartaian.
Modal politik itulah yang kemudian mengantarkannya meraih kepercayaan Partai Golkar untuk maju dalam Pilkada Soppeng 2024. Padahal saat itu, tidak sedikit pihak yang meragukan bahkan memprediksi dirinya sulit mendapatkan tiket dari partai berlambang pohon beringin tersebut.
Faktanya, Suwardi berhasil memperoleh dukungan Golkar dan keluar sebagai pemenang dalam kontestasi politik daerah. Kemenangan itu menjadi bukti bahwa ia tidak hanya mendapat legitimasi dari partai, tetapi juga memperoleh mandat langsung dari masyarakat.
Dalam dunia politik, kemenangan melalui proses demokrasi merupakan salah satu indikator paling nyata dari kekuatan dan penerimaan publik terhadap seorang pemimpin.
Tak hanya itu, Suwardi hingga kini masih menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan. Jabatan tersebut bukan posisi simbolis yang diberikan begitu saja. Dalam partai besar seperti Golkar, posisi strategis biasanya diberikan kepada kader yang memiliki kapasitas, pengalaman, loyalitas, serta kontribusi nyata terhadap partai.
Karena itu, sulit rasanya menyimpulkan bahwa pengaruh politik Suwardi telah memudar hanya karena dirinya tidak terlihat dalam satu agenda konsolidasi partai.
Belakangan, ketidakhadirannya dalam salah satu kegiatan Golkar Sulsel memang memicu berbagai tafsiran. Ada yang buru-buru mengaitkannya dengan perubahan peta kekuatan politik di tubuh partai. Namun, penilaian seperti itu dinilai terlalu prematur.
Suwardi sendiri telah menjelaskan bahwa pada waktu yang bersamaan dirinya tengah menjalankan tugas pemerintahan sebagai kepala daerah. Selain itu, komunikasi dengan jajaran pimpinan partai tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Bahkan, sejumlah informasi menyebutkan bahwa komunikasi antara Suwardi dengan Pelaksana Tugas Ketua DPD I Golkar Sulsel, H. Muhiddin Moh. Said, tetap berlangsung dengan baik. Fakta ini memperlihatkan bahwa hubungan politik dan koordinasi organisasi masih terjaga.
Dalam praktik politik modern, pengaruh seseorang tidak selalu diukur dari seberapa sering ia hadir di panggung atau muncul dalam setiap agenda partai. Kekuatan politik justru sering kali terlihat dari kemampuan menjaga komunikasi, merawat jaringan, mempertahankan loyalitas kader, serta menjaga kepercayaan masyarakat.
Sebagai Bupati Soppeng, Suwardi memiliki posisi yang sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat melalui program pembangunan dan pelayanan publik. Posisi ini menjadi modal politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Di tingkat lokal, ia juga dikenal memiliki hubungan yang cukup kuat dengan berbagai elemen masyarakat. Jaringan tersebut dibangun bukan dalam hitungan bulan, melainkan melalui perjalanan panjang di dunia politik, pemerintahan, dan aktivitas sosial kemasyarakatan.
Karena itu, sejumlah kalangan menilai bahwa menyebut Suwardi Haseng hanya sebagai figur yang "membaca peta kekuasaan" merupakan kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa. Sebab, hingga hari ini ia masih memiliki modal politik, jaringan, dan posisi strategis yang memungkinkannya ikut memengaruhi arah perkembangan politik di Kabupaten Soppeng maupun di internal Partai Golkar.
Pada akhirnya, politik tidak hanya soal siapa yang paling sering terlihat di panggung. Politik juga berbicara tentang pengaruh, jaringan, legitimasi, dan kepercayaan yang dibangun dalam waktu panjang. Dan dalam konteks itu, Suwardi Haseng tampaknya masih jauh dari sekadar penonton. Ia tetap menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan dalam peta politik Soppeng dan Sulawesi Selatan.
(Red)

0Comments