Rilis Info News - Ramadhan 1447 Hijriah hadir bukan sekadar sebagai tamu agung yang disambut dengan ucapan seremonial, melainkan sebagai cahaya yang menerangi ruang-ruang batin. Bagi keluarga besar SD Negeri 7 Salotungo, bulan suci ini menjadi momentum untuk menundukkan ego, meluruskan niat, serta memperbaiki amanah dalam mendidik generasi.
Kepala SD Negeri 7 Salotungo, Abdul Asis, S.Pd.I, menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan madrasah jiwa—tempat setiap insan kembali belajar tentang keikhlasan dan tanggung jawab.
“Di bulan ini, kita diajak bukan hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi juga berpuasa dari kelalaian, dari sikap abai, dan dari segala bentuk kekerasan hati. Pendidikan sejatinya adalah penjagaan nurani. Kami menyadari, dalam perjalanan itu, masih ada kekurangan yang perlu kami benahi,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa dinamika di lingkungan sekolah masih terjadi. Sejumlah persoalan seperti perundungan, perkelahian kecil antar siswa, hingga kelalaian dalam penegakan tata tertib menjadi bahan muhasabah bersama. Sebagai pemimpin, ia juga tidak menampik adanya kekhilafan pribadi serta keterbatasan tenaga pendidik dan kependidikan dalam mengawal disiplin dan pembinaan karakter.
“Kami telah berikhtiar melalui penyampaian secara lisan, surat edaran tertulis, hingga publikasi di media sosial sebagai langkah antisipatif. Namun manusia adalah tempat salah dan lupa. Ramadhan ini menjadi ruang taubat kolektif bagi kami semua,” lanjutnya.
Sebagai bentuk komitmen dalam memperbaiki tata kelola dan penguatan karakter peserta didik, pihak sekolah terus mempererat koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng melalui pengawas, koordinator wilayah (korwil), para seksi teknis, hingga pimpinan dinas. Sinergi juga dibangun bersama Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng sebagai mitra strategis dalam menghadirkan pendidikan yang lebih arif dan berkeadaban.
Bagi pihak sekolah, Ramadhan bukan sekadar momentum seremonial, tetapi menjadi titik balik untuk menata niat dan memperkuat kolaborasi dengan orang tua serta masyarakat. Sebab, mendidik anak bukanlah tugas satu pihak, melainkan amanah bersama.
“Atas nama keluarga besar SD Negeri 7 Salotungo, kami memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas segala kekurangan dan kekhilafan. Doakan kami agar mampu menjadi pelayan pendidikan yang lebih bijaksana, sabar, dan tulus dalam mengemban amanah ini,” pungkasnya.
Semoga Ramadhan 1447 H menjadi cahaya yang menuntun langkah, melembutkan hati, serta menjadikan sekolah sebagai taman ilmu yang teduh—tempat anak-anak tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi juga dengan adab dan kasih sayang.
Marhaban Ya Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin.

0Comments