TSWoTUOlTUW7TSW8TUGpTpW8Ti==
Breaking
News

“Jum’at Bersih SDN 7 Salotungo: Dari Menyapu Halaman Menanamkan Karakter”

Font size
Print 0

Rilis Info News -   Di tengah arus pendidikan yang kian bergantung pada fasilitas modern dan layanan serba instan, SDN 7 Salotungo justru memilih menapaki jalur yang sederhana, namun penuh makna. Melalui program Jum’at Bersih, sekolah ini membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak selalu lahir dari teori di ruang kelas, melainkan dari kebiasaan nyata yang ditanamkan secara konsisten.

Bagi SDN 7 Salotungo, Jum’at Bersih bukan sekadar kegiatan seremonial atau rutinitas formal belaka. Program ini telah menjelma menjadi budaya sekolah yang dijaga keberlangsungannya dari waktu ke waktu. Setiap hari Jum’at, sejak pagi hari, seluruh warga sekolah terlibat aktif membersihkan lingkungan—mulai dari ruang kelas, halaman, selokan, hingga taman sekolah.

Pelaksanaannya pun tertata rapi. Daftar piket kelas disusun secara sistematis, dengan pembagian area per kapling agar seluruh sudut sekolah mendapat perhatian yang sama. Setiap murid memiliki tanggung jawab yang jelas. Menariknya, para guru tidak hanya berperan sebagai pengawas. Mereka turun langsung ke lapangan, mendampingi murid-murid menyapu, membersihkan, dan merapikan lingkungan sekolah bersama-sama.

Kegiatan ini dikoordinir oleh guru PJOK, Israwati, yang menyadari betul bahwa membangun kebiasaan positif pada anak-anak bukanlah perkara mudah.

“Kami tidak menafikan, ini tidak semudah yang dibayangkan. Semuanya butuh proses dan kesabaran. Tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir dari malas menjadi rajin, dari terpaksa menjadi ikhlas,”ujar Israwati, Jum’at (23/1/2025).

Menurutnya, esensi Jum’at Bersih bukan terletak pada alat kebersihan yang digunakan, melainkan pada proses menumbuhkan kesadaran. Anak-anak dilatih untuk memahami bahwa kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama, bukan semata tugas petugas kebersihan atau pihak tertentu.

Pandangan tersebut sejalan dengan yang disampaikan Syamsu Rijal, guru PJOK yang dikenal aktif, rendah hati, dan kerap terjun langsung membantu berbagai kegiatan sekolah.

“Jika rasa memiliki terhadap sekolah tidak ditanamkan, semuanya akan terasa berat. Anak-anak harus merasa: ini sekolahku. Kalau kotor, saya yang rugi. Kalau bersih, saya yang bangga,”tegasnya.

Dua pernyataan tersebut menegaskan satu pesan penting: pendidikan karakter tidak bisa dibentuk secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang, dari keteladanan guru, serta dari pendampingan yang konsisten dan penuh kesabaran.

Pemandangan setiap Jum’at pagi di SDN 7 Salotungo menjadi potret nyata nilai-nilai tersebut. Anak-anak terlihat menyapu halaman dengan kesadaran, membersihkan selokan tanpa keluhan, merapikan taman dengan semangat, serta menata ruang kelas dengan rasa tanggung jawab. Semua dilakukan bukan karena takut dimarahi, melainkan karena tumbuhnya rasa memiliki terhadap sekolah mereka.

Inilah wajah sekolah yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga sungguh-sungguh mendidik karakter. Jum’at Bersih di SDN 7 Salotungo bukan hanya membersihkan lingkungan fisik, melainkan juga mengikis mental malas dan menumbuhkan keikhlasan dalam diri peserta didik.

SDN 7 Salotungo membuktikan bahwa karakter tidak diwariskan begitu saja. Ia dibentuk perlahan melalui proses panjang, kesabaran, dan konsistensi.

Karena sejatinya, Jum’at Bersih bukan aksi sesaat.I a adalah proses panjang. Ia adalah wajah dari sekolah berkarakter.

(Red) 


“Jum’at Bersih SDN 7 Salotungo: Dari Menyapu Halaman Menanamkan Karakter”
Check Also
Next Post

0Comments

Link copied successfully